oleh

PT. AMNT Manfaatkan Hashtag Sebagai Senjata Kampannye Personal Branding

BeneteNews – Pasca aksi pemuda desa Benete, Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat (KSB),  yang melakukan penutupan get Milik PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) hingga berakhir dengan pembubaran paksa menggunakan Water Canon dan gas air mata oleh pihak aparat kepolisi. 
Pada saat pembubaran paksa tersebut banyak pengguna jalan berhenti untuk melihat dan mengabadikan aksi tersebut menggunakan Ponsel pintarnya dan menyebarkan di media sosial baik seperti facebook, youtube maupun di blog pribadi.
Akibat penyebaran informasi dalam bentuk gambar, video dan juga tulisan terkait pembubaran paksa dan tanpak perlawanan dari pihak pendemo tersebut, menuia beberapa kritikan dari netizen. Mulai dari yang simpatik terhadap kejadian tersebut. Seperti salah satu komentar warga 
“Bangsat…. Beli water Canon, tameng, helem, senjata, pake duit rakyat, malah di pakai buat mukul mundur rakyat lagi, dasar keparat… besok gue berhenti bayar pajak kalau cara,y kaya gini….”
Pasca itulah pihak perusahaan melakulan penggiringan isu dengan memperbanyak postingan positif yang ada di dua wilayah lingkar tambang, yaitu Kecamatan Maluk dan Kecamatan Sekongkang. Lebih khususnya di Desa Tongo di Kecamatan Sekongkang dan Desa Benete di Kecamatan Maluk.
Dua desa inilah yang saat itu melakukan aksi pemblokir jalan untuk masuk di area pertambangan. Desa Benete di Pintu Masuk atau biasa di sebut Gat dan Desa sekongkang di Pintu swis.
Penggiringan isu bahwa tidak seperti yang di viralkan atau yang di bagikan oleh masyarakat melalui media sosialnya.
Di salah satu akun milik perusahaan tersebut selalu membuat postingan positif dengan menambahkan Hashtag (#) Benete dan Tongo. 
Hashtag atau tagar ini merupakan sepotong kata atau kalimat kalimat yang menghubungkan satu post dengan postlainnya tetapi juga berguna untuk menciptakan brand marketing yang solid.
Sebelumnya hal tersebut jarang dilakukan pihak perusahaan, namun pasca aksi demo tersebut dimuat di blog dan media sosial lainya. Postingan dengan hashtag #Benete sering muncul dan di galakkan oleh pihak perusahaan.
Seperti yang banyak beredar di media sosial seperti facebook postingan positif yang dilakukan oleh pihak perusahaan untuk memfilter hal yang di anggap merugikannya.
Salah satuh postingannya yang menggunakan hashtag #Benete & #Tongo adalah sebagai berikut :

“Petani desa #Benete yang sedang memasuki musim tanam pertama 2018 ini. Dengan pembagunan bendungan, embung, seta pelatihan sistim tanam, kini hasil tani masyarakat di sekitar are tambang meningkat 2x lipat”
Selain itu ada juga postingan terkait desa Tongo kecamatan Sekongkat yang dimana masyarakatnya terbantu dengan adanya bantuan fasilitas dan pemasaran gula aren yang ada di desanya.
“Siapa yang tidak kenal legitnya gula aren. Di Desa #Tongi, desa yang dekat dengan #BatuHijau, pengolahan gula aren menjadi salah satu sumber penghasilan warga. Dengan bantuan pengingkatan fasilitas dan pemasaran yang tepat, diharapkan gula aren dari tongo ini bisa dinikmati lebih banyak pencinta kuliner #Indonnesia.”

Keberadaan hashtag di Facebook dinilai oleh beberapa ahli memberikan manfaat lebih kepada pemasar ketimbang kalangan personal, anggapan lain menyebutkan bahwa hashtag dapat pula dimanfaatkan sebagai senjata kampannye personal branding.
Mungkin itulah yang ingin diterapkan oleh pihak perusahaan tersebut.

Komentar

News Feed